Monday, October 29, 2007

Félicité

Jujur posting kali ini terinspirasi dari blog tetangga mengenai kebahagiaan. Dahulupun saya pernah curiga bahwa kebahagiaan adalah hasil dari kemampuan otak atau pikiran untuk hanya berpikir hal-hal yang menyenangkan hati atau tepatnya menyenangkan pikiran si empunya. Bila kecurigaan itu benar, secara tidak langsung saya mengakui bahwa segala macam bahan adiktif (misal narkoba) adalah salah satu sumber kebahagiaan. Postulat itupun dengan mudah terpatahkan.

Pernah juga terpikir, bahagia itu adalah ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki keinginan. Namun istilah ini agaknya masih belum tepat, karena tidak memiliki keinginan menimbulkan berbagai prasangka negatif, mati rasa lah, tak berpengharapanlah dan lain-lain, walaupun yang dimaksud bukan itu.


Kalau mau ditarik dari sisi spiritual, semua ajaran agama yang berasal dari Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang diraih melalui tata cara tertentu. Benang merah yang menghubungkan ke-konsistenan suatu ajaran-Nya adalah tercantumnya tuntutan akan kepasrahan total kepada-Nya untuk meraih kebahagiaan. Nha....ini dia yang sering menimbulkan perdebatan. Tuhan tidak pernah men-deklarasikan bahwa yang namanya pasrah kepada-Nya adalah berdiam diri, tidak berusaha apa-apa seperti sapi dicocok hidungnya (eh sapi dicocok hidungnya juga masih berusaha untuk berjalan ding). Padahal jelas-jelas diterangkan di setiap ayatnya bahwa seorang manusia haruslah berusaha . Kalau dua perintah itu dianggap berlawanan, tentu saja tidak benar. IMHO (in my humble opinion) yang dimaksud pasrah adalah sifat/pengakuan hati seorang manusia untuk menghamba kepada Tuhan-Nya.

Dalam bagan skema jiwa manusia karya putra bangsa, Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso, kepasrahan itu tidak terletak pada angan-angan /otak yang berpikir untuk menyerah, tetapi terletak pada ego, tepatnya penyerahan ego. Pasrah itu selalu dibarengi dengan penundukkan ego diri kepada sesuatu dzat (bukan zat) yang Maha Berkuasa. Ibarat sesajen, penyerahan kedaulatan ego kepada-Nya adalah sesajen untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya yang artinya beroleh kebahagiaan.


Indoktrinasi penyerahan kedaulatan ini sering digunakan sebagai bagian dari pencucian otak sekelompok aliran kepercayaan radikal tertentu yang selalu mengatasnamakan Tuhan dalam tindakannya semisal terrorre'jing eh....teroris. Bila benar apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari penyerahan ego kepada Tuhan YME, tentulah tidak ada lagi arogansi kebenaran pribadi dengan menganggap salah keyakinan orang lain. Logikanya begini, para teroris tersebut membunuh orang dengan alasan korban-korbannya adalah orang kafir yang pantas dibunuh, itu artinya mereka meremehkan kemampuan Tuhan untuk secara pribadi membunuh atau tidak menciptakan orang-orang kafir tersebut. Logikanya mereka harus berpikir juga bahwa semua ada/terjadi karena suatu alasan. Ah...tapi saya tidak mau berdebat mengenai logika para terrorre'jing itu karena sudah menjadi rahasia umum pada dasarnya mereka bertindak dengan tidak menggunakan logika tetapi suatu kepentingan dengan berselubungkan suatu keyakinan.


Berlawanan dengan para terrorre'jing tersebut, seseorang yang memang sudah menyerahkan kedaulatannya tidak melakukan agresi dengan menyerang atau melawan sesuatu yang menimpanya. Melainkan menerima dengan legawa kemudian menyesuaikan diri terhadap "serangan" tersebut. Mungkin sama dengan konsep bela diri aikido yang pernah diterangkan teman kantor saya dan artikel ini . Dari yang pernah saya ketahui mengenai aikido ini tidak ada teknik menyerang ataupun melawan (CIIW - correct me if i'm wrong) , dari yang pernah saya lihat teknik aikido cenderung menerima serangan lawan kemudian mengontrolnya sesuai "keinginan" kita. Sangat menarik. Oleh karena itu ketika seorang teman bercerita mengenai perilaku seorang temannya,saya sarankan teman saya tsb untuk menyuruh temannya itu (temannya teman saya) berlatih aikido, mungkin bisa membantu apa yang dianggap masalah bagi teman saya itu (nah loh....bingung ngga antara teman dan temannya teman :p ).


Kembali ke kebahagiaan. Dari buku karya seorang jawa Bp. Soenarto M. berjudul Olah Rasa di Dalam Rasa, saya setuju bahwa seseorang akan bahagia bila ia tidak terikat oleh sesuatu yang ada di dunia ini, dengan kata lain sudah ikhlas. Kabar buruknya ikhlas tidak bersifat heredity dan tidak terkode-kan dalam gen seorang anak manusia. Kabar baiknya we're still alive he he he....... . Untuk penjelasan mengenai keterikatan ini saya ambilkan dari tulisan beliau :
.....Adapun keterikatan itu disebabkan oleh pekertinya cipta (pikir) dan bergeraknya angen-angen yang mengadakan bayangan atau gambaran aneka rupa tentang hal-hal yang kaucintai....


Lalu, apakah salah bila mencintai sesuatu ? Ah....tentu saja tidak, seperti apa yang pernah ditulis oleh mbak ini . Namun dari yang pernah saya alami, mencintai diri sendiri dengan terlalu berlebihan, banyak menimbulkan pamrih yang melahirkan ketidakbahagiaan . Tulus mengalah dengan tidak membela diri bila tidak diperlukan, membiarkan orang lain bahagia dengan caranya sendiri, sering menimbulkan kebahagiaan yang bukan hanya sekedar sensasi seperti sensasi kembang api di malam Tahun Baru. Percaya saja akan sifat keadilan-Nya, yang bukan hanya sekedar Adil tetapi MAHA adil. Apa yang saya terima, pasti pernah saya lakukan. Entah kapan & di masa apa. Untuk itu, perkenankanlah saya menyampaikan :

Mohon maaf lahir dan batin

Semoga 26 tahun kehidupan ini telah mengurangi keburukan yang pernah tertanam dan menjadi momentum untuk hanya menanam kebaikan.


Ijinkanlah saya tutup postingan kali ini dengan sebuah kutipan dari tulisan psikiater besar Indonesia, Prof. Soemantri Hardjoprakoso sebagai berikut :

.........................
Siapa masih tergoda oleh keadaan dunia besar ini, masih belum suci.
Siapa masih ingin menjalankan suatu prestasi, sekalipun prestasi itu baik, ternyata belum tenang.
Siapa masih ingin memberantas apa-apa yang jahat dan buruk, ternyata belum damai.
Siapa masih membenci apa-apa yang tidak baik, ternyata belum sayang


..........................
(Arsip Sarjana Budi Santosa - Prof. Soemantri Hardjoprakoso)

Sunday, October 21, 2007

Come as you are

You are the reason
For blue in the sky
Yes, you are the reason why
Snow covers winter
And melts into spring
And rivers meet the sea

God is here for you
And you were made for him
Hell give you more of everything
Cause he has always loved you
His promises are true, so true
If you

Chorus:
Come as you are
Dont change a thing
Open your heart
He'll walk right in

Come as you are
No alibis
His love for you
Will never die

There is a heaven
Open your eyes
And there you have no disguise
He'll never leave you
No need to hide
He's always by your side
If you just believe

There is a way youll see
Its just one step to eternity
And he will always love you
This promise will be true, so true
If you

by : Jaci Velasquez
-------------------

Saya kira bila setiap hubungan lawan jenis yang berakhir dengan pernikahan diawali seperti judul lagu ini, perceraian bisa tidak perlu ada. Atau malah tidak akan pernah ada pernikahan ??? :D

Saya lebih setuju dengan tulisan Kahlil Gibran di bawah posting ini. Cinta itu bukan masalah kekaguman, obsesi, atau sesuatu yang material, dia ada karena memang ada. Tak perlu diperjuangkan dan tak perlu diubah. Tapi sayangnya, tidak begitu dengan pernikahan.

Mengubah kepribadian seseorang selalu menjadi masalah di setiap hubungan. Saya dan teman saya setuju, bahwa kami tidak ingin mengubah seseorang selain anak-anak kami :D itu pun tidak mengubah namun membentuk kepribadiannya. Itulah kenapa kami tidak pernah menjalin hubungan serius dengan anak di bawah usia 17 tahun he he he....

Berbicara ttg pernikahan dan perceraian, saudara saya yang seorang psikolog pernah mengatakan, bahwa pernikahan yang langgeng itu bukan didasarkan karena cinta, melainkan niat untuk mencintai. Saya setuju.

Walau begitu, nenek teman saya pernah menasihati untuk hanya menikah dengan orang yang saya cintai dan mencintai saya. Saya lebih setuju dengan ini ^_^ disamping niat untuk mencintai sepanjang masa.

Jangan dikira cinta datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun.Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad. - Kahlil Gibran

Friday, April 13, 2007

Pekerjaan

Matahari baru beberapa jam menguarkan auranya, danau di fakultas teknik UI dengan anggun membiaskan sinarnya memberikan spektrum warna yang begitu indah bagi yang memandang, ketika tiba-tiba mas bule bertanya "Pekerjaan seperti apa yang kamu mau ?"

Saya masih ingat ketika seorang kawan menyarankan untuk mencoba semua jenis pekerjaan sebelum memutuskan satu yang pasti. Pernah saya ikuti sarannya itu, melamar pekerjaan dengan acak, alhasil gagal karena saya melalui tesnya tidak dengan sepenuh hati, ada semacam kebimbangan dan perasaan tidak nyaman setiap pertanyaan berkaitan dengan motivasi dimunculkan. Karena motivasi saya memang hanya coba-coba he he he.....Meskipun di antara yang coba-coba itu ada satu yang berhasil, dan besok Senin adalah hari pertama saya bekerja, yah begitulah rencana Sang Empunya Hidup.

Kembali ke pertanyaan tadi. Saat itu jujur saya katakan, saya sendiri tidak bisa mendekripsikan pekerjaan apa yang saya inginkan dengan tepat. Terlalu premature rasanya untuk bisa memastikan pekerjaan yang tepat bagi saya. Saya hanya tahu garis besarnya, dan dengan bermodal pengetahuan yang cekak itu sejumlah lamaran dikirim, sebagai usaha untuk memenuhi tuntutan-Nya agar Ia dapat menyalurkan kehendak-Nya yang abadi.

Jawaban yang terlontar saat itu, "Yah....saya terlalu berhati-hati untuk hal semacam ini, sama seperti menentukan pasangan." Mas Bule menjawab, "Ya, mencari pekerjaan mirip seperti mencari jodoh bahkan harus lebih berhati-hati memilih pekerjaan daripada memilih jodoh." . "Oh ya ? Mengapa ?" tanya saya. "Kamu harus benar-benar bekerja di tempat yang kamu sukai. Karena frekuensimu bertemu dengan pekerjaan lebih banyak daripada bersama keluarga. Saya bertemu dengan keluarga hanya di malam hari dan hari Sabtu - Minggu. Hampir seluruh waktu hidup saya dihabiskan di kantor." jawabnya.

Saat itu saya hanya mengiyakan saja. Tapi tahukah mas Bule, pekerjaan tidak akan terus dihadapi sampai akhir hayat. Ada masa ketika pekerjaan harus dihentikan dan mempersiapkan pekerjaan selanjutnya yang jauh lebih penting. Untuk itu dengan siapa kita akan menghabiskan sisa hidup menjadi tak kalah penting, karena ia adalah partner di saat menyiapkan persyaratan lamaran yang perlu terus menerus dilakukan selama hayat masih di kandung badan.

Sunday, February 05, 2006

Gospel and worship

……………..
Kau bukan Tuhan yang jauh dariku
…………….
Kau Tuhan yang selalu dengar seruan hatiku
Sungguh indah Kau Tuhan
Penuh kasih dan sayang
Kau tempat penghiburan bagi setiap hati yang terluka
Sungguh indah kau Tuhan
Menara perlindungan
Kau sumber kekuatan bagi semua orang yang membutuhkan

By : Shekinah

Setelah sekian lama tidak mendapat giliran ngeloni kompiku tersayang, akhirnya malam ini aku bebassss………… Dengan dalih masih flue dan ingin istirahat di kamar sendiri, hingga pukul 23:37 kompi ini masih saya kuasai. Browsing lagu2 gospel peninggalan teman2 waktu di kampus, terpilihlah lagu di atas. Bagi saya lagu gospel ini bersifat bisa dinikmati oleh setiap umat yang mencintai Tuhan yang Esa.
Saya memang tidak fanatik untuk semua bacaan ataupun musik yang bisa membuat saya tambah mencintai dan menyadari –Nya. Konsep Tuhan saya adalah Tuhan yang universal, milik semua insan di dunia, dengan sebutan yang beraneka ragam. Bukan Tuhan yang terkotak-kotak dalam suatu nama tertentu, atau bangsa tertentu. Bukan juga Tuhan yang dengan arogan menyatakan “Ini salah ! Itu benar !” Namun Tuhan yang selalu memberikan rasa tenteram bahkan kepada orang yang penuh dosa (sepanjang bukan dosa menyekutukan-Nya) karena Ia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Tuhan yang Qiyamuhu Binafsihi (berdiri sendiri) , bukan karena suatu bangsa, golongan ataupun kelompok.

Tapi bukan berarti saya pendukung orang yang menyatakan bahwa semua agama itu sama lantas bisa saja digabungkan menjadi satu. Saya percaya bahwa intisari setiap agama yang berasal dari Tuhan adalah sama, tapi bukan berarti bisa dicampuradukkan. Kiranya perlu pemahaman yang suangat bijaksana, mengapa Tuhan sampai menurunkan beberapa agama dalam kurun waktu yang berbeda, rentang waktu yang berjauhan dan pada bangsa yang berbeda. Banyak faktor sih yang perlu menjadi bahan pertimbangan, salah satunya psikologi bangsa yang menerima, karena tata cara masing2 agama dalam menyembah-Nya tidak sama, dan ini yang biasanya menjadi masalah bagi manusia yang suka padang-padangan obor (terang-terangan obor) dan akhirnya kebloloken (silau hingga matanya sakit dan tidak dapat melihat terangnya obor sendiri dengan jelas).

Entah mengapa, saya tidak pernah percaya bahwa Tuhan tega mengutuk (sepanjang bukan dosa menyekutukan-Nya) seperti apa yang dikatakan orang awam bila menerima bencana maha dahsyat, karena yang saya yakini Tuhan Maha Pengasih, jangan remehkan kata MAHA. Tetapi Tuhan itu Maha Adil, itulah yang perlu dikaji. Jadi kalau sampai ada firman Tuhan yang menyatakan Tuhan akan mengutuk (sepanjang bukan dosa menyekutukan-Nya), hendaknya dikaji lagi dengan lebih bijaksana dengan memperhatikan segala ke-MAHA-an-Nya. Ingat, Ia bukan kita yang penuh nafsu. Ia bukan manusia.

Saturday, March 19, 2005

Kebenaran

Sifat dasar dari manusia adalah mencari kebenaran. Mencari kebenaran akan hidup, mencari kebenaran akan Tuhan. Tapi toh tetap ada manusia-manusia yang berusaha mengingkari sifat dasar ini, dan secara terus menerus membohongi batinnya sendiri, hingga sifat dasar ini tenggelam dalam gelapnya pamrih hati.

Sesungguhnya setiap manusia telah diberikan penuntun dan guru, yang akan memberikan petunjuk, tuntunan dan pencerahan dalam menjalani kehidupannya, Dialah Sang Guru Sejati. Setiap ajaran ke-Tuhanan yang turun ke dunia, selalu mengingatkan akan peran Tuhan yang bukan hanya sebagai penguasa alam semesta, namun juga sebagai Penuntun dan Guru Sejati bagi umat manusia.

Banyak sekali nama yang diberikan bagi Sang Pencipta; Yehova, Gusti, Deo, Allah, Alloh, Hyang Widhi, God. Namun Tuhan yang dimaksud di sini adalah Tuhan yang universal, bukan Tuhan yang terikat pada suatu nama atau bangsa tertentu, melainkan Tuhan Sang Penguasa Alam semesta yang menembus ruang dan waktu dan yang bertahta di Kolbu Mukmin Baitullah, hati yang suci menjadi takhta Tuhan.

Kebenaran hanya ada satu, seperti bunyi sebuah bahasa sanskerta : Tan Hana Dharma Wangra, Tidak ada kebenaran yang mendua, tidak ada grey area. Kebenaran hanya ada satu, tapi bukan milik seorang anak manusia, kebenaran hanyalah dimiliki oleh-Nya. Kebenaran-kebenaran yang kita ketahui hanyalah sepotong, terbatas dalam alam pikiran dan pengetahuan kita, dan pengetahuan kita terbatas dalam ruang dan waktu.

Ada orang yang berjuang demi kebenaran. Mungkin itu adalah bagian dari tugas hidupnya. Namun ada orang yang berperang demi kebenaran. Untuk hal ini perlu disanksikan, kebenaran apa yang diperangkan itu, kebenaran yang universal atau kebenaran yang terbatas dalam ruang dan waktu.

Suatu kebenaran yang disampaikan dengan menggebu-gebu, tanpa kerendahan hati apalagi kasih sayang, akan sangat bias dengan ke-ego-an. Dan saat ego manusia meninggi pada saat itulah si anak manusia telah meninggalkan sesembahannya yang sejati, ia tidak lagi menyembah Tuhan yang diketahuinya, namun ia mulai menyembah egonya sendiri, karena ia mulai mengalihkan kepercayaannya pada si ego.

Manusia bisa mencontoh manusia-manusia sempurna, seorang utusan Tuhan, seorang nabi, tidak ada yang memiliki sifat menggebu-gebu, tinggi hati dan merasa benar sendiri, walaupun kebenaran telah luluh menjadi satu dengannya. Dan sebagai orang yang percaya akan Tuhan, sifat para Utusan-Nya dapat dijadikan suatu parameter pribadi (sekali lagi parameter pribadi, yang artinya tidak untuk menilai orang yang bukan dirinya).

Kebenaran sejati bagi manusia berada dalam hatinya sendiri. Kebenaran bagi yang satu bisa berbeda dengan kebenaran bagi yang lain. Setiap manusia memiliki derajat kejiwaan yang berbeda-beda, sulit bagi manusia untuk memiliki kebenaran yang universal, karena setiap manusia adalah unik.

Sifat dasar dari manusia adalah mencari kebenaran. Mencari kebenaran akan hidup, mencari kebenaran akan Tuhan. Percayai kebenaran dalam hati masing-masing.

Friday, January 07, 2005

Makna

When you love someone so deeply,They become your life
It's easy to succumb to overwhelming fears inside
Blindly I imagined I could,Keep you under glass
Now I understand to hold you, I must open my hands
And watch you rise
----------------------

Ketika sepasang manusia memutuskan untuk memadu kasih, ada satu keputusan besar yang telah mereka ambil; Berbagi Kehidupan ~ Share their life.
Ini keputusan sangat besar…….yang merupakan suatu pilihan…………………………..

Seorang teman memaknainya begitu dangkal….dan berakhir kepahitan………………….
Seorang kawan memaknainya begitu cepat…..dan berakhir…….pengkhianatan…………
Seorang sahabat memaknainya begitu tergesa-gesa…..dan berakhir…….kehampaan……
Seorang kerabat memaknainya begitu lama….dan berakhir……ketiadaan……………….
Seorang saudara memaknainya dengan kekaguman….dan berakhir…….kekecewaan…...
Seseorang memaknainya begitu dalam…..dan……nothing happen to him……(he he he sorry Broe ;) )
......................

Maknai dengan tanggung jawab dan kesabaran.


ps : thanks Dya, you gave me enlightment

Saturday, January 01, 2005

Genetik

Mungkin manusia memiliki genetik, memiliki sifat bawaan yang tidak hanya mempengaruhi fisik namun juga watak. Seperti juga fisik yang dapat berubah bila mendapatkan intervensi dari pihak luar, lingkungannya. ‘Lingkungan’ narkoba misalnya yang selain merusak fisik juga psikis, watak. Kecelakaan, dapat merusak wajah tampan/cantik menjadi buruk, dan perlahan-lahan pun dapat menggerogoti jiwa lemah yang bergantung padanya dan mulai mempengaruhi sifat, watak, perangai.
Itu contoh dari luar ke dalam, dari fisik mempengaruhi psikis. Begitu juga sebaliknya, intervensi dari dalam dapat mempengaruhi luar. Sifat seseorang dapat terlihat dari fisiknya, namun berbeda dengan contoh sebelumnya yang kasat mata, penampakannya hanya berupa pancaran, lebih halus lagi pancaran jiwa yang ditimbulkan pada lingkungannya. Seorang berhati bersih memancarkan kedamaian dan ketenangan pada parasnya. Mungkin wajah tidak cantik/tampan atau bahkan cacat, namun orang lain tidak bosan memandangnya. Seorang berhati dengki memancarkan kesuraman pada parasnya. Seorang dengan semangat tinggi memancarkan optimisme.

Seperti juga fisik, bagian yang cacat dapat diperbaiki, dapat ditambahkan. Watak yang buruk dapat diperbaiki pula. Untuk memperbaiki fisik yang rusak/cacat sangatlah sakit, obat bius hanya menghilangkan rasa sakit untuk sementara saja. Namun pada akhirnya toh rasa sakit itu hilang, dan tubuh yang cacat menjadi indah. Begitu juga dengan watak yang buruk dapat diperbaiki, sayangnya perbaikan watak ini akan menentukan jurusan jiwa selanjutnya.
Banyak cara untuk memperbaiki watak, ada yang secara akademis, secara budaya atau secara rohani. Perbaikan watak dengan cara-cara yang diajarkan Sang Pencipta, Tuhan YME, Allah SWT, Yehova, Deo, God, terangkum dalam apa yang disebut manusia AGAMA. Berbeda dengan cara-cara buatan manusia, atau makhluk lain, cara-cara dari Sang Pencipta tentu saja akan menuntun ciptaannya untuk kembali pada-Nya bila saatnya dipanggil kembali.

Kembali ke perbaikan watak tadi, tidak jauh bedanya dengan ‘reparasi’ fisik, ‘reparasi’ watak juga sangat menyakitkan. Apapun agama yang dipeluknya tidak berarti seseorang lepas dari suatu penderitaan. Bahkan orang yang telah bertunggal dengan Sang Pencipta-pun tidak berarti dia terlepas dari penderitaan, contohnya Nabi, meskipun beliau telah bertunggal dengan Penciptanya tidak berarti tidak ada orang yang membencinya. Hanya saja perbedaan mendasar adalah cara mereka bereaksi. Reaksi-reaksi manusia dalam kehidupannya sekarang akan menentukan arah tujuan pada kehidupan yang akan datang.
Reparasi watak akan menghantam langsung ‘kedaulatan’ seorang anak manusia, menghantam langsung sang AKU. Dan saat sang AKU itu telah tunduk, anak manusia itu menjelma menjadi orang yang tak terkalahkan. Tak ada satupun masalah yang dapat menggoyahkan ketenangannya. Ialah sang pemenang.


Ref: Arsip Sarjana Budi Santosa