Félicité
Jujur posting kali ini terinspirasi dari blog tetangga mengenai kebahagiaan. Dahulupun saya pernah curiga bahwa kebahagiaan adalah hasil dari kemampuan otak atau pikiran untuk hanya berpikir hal-hal yang menyenangkan hati atau tepatnya menyenangkan pikiran si empunya. Bila kecurigaan itu benar, secara tidak langsung saya mengakui bahwa segala macam bahan adiktif (misal narkoba) adalah salah satu sumber kebahagiaan. Postulat itupun dengan mudah terpatahkan.
Pernah juga terpikir, bahagia itu adalah ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki keinginan. Namun istilah ini agaknya masih belum tepat, karena tidak memiliki keinginan menimbulkan berbagai prasangka negatif, mati rasa lah, tak berpengharapanlah dan lain-lain, walaupun yang dimaksud bukan itu.
Kalau mau ditarik dari sisi spiritual, semua ajaran agama yang berasal dari Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang diraih melalui tata cara tertentu. Benang merah yang menghubungkan ke-konsistenan suatu ajaran-Nya adalah tercantumnya tuntutan akan kepasrahan total kepada-Nya untuk meraih kebahagiaan. Nha....ini dia yang sering menimbulkan perdebatan. Tuhan tidak pernah men-deklarasikan bahwa yang namanya pasrah kepada-Nya adalah berdiam diri, tidak berusaha apa-apa seperti sapi dicocok hidungnya (eh sapi dicocok hidungnya juga masih berusaha untuk berjalan ding). Padahal jelas-jelas diterangkan di setiap ayatnya bahwa seorang manusia haruslah berusaha . Kalau dua perintah itu dianggap berlawanan, tentu saja tidak benar. IMHO (in my humble opinion) yang dimaksud pasrah adalah sifat/pengakuan hati seorang manusia untuk menghamba kepada Tuhan-Nya.
Dalam bagan skema jiwa manusia karya putra bangsa, Prof. Dr. Soemantri Hardjoprakoso, kepasrahan itu tidak terletak pada angan-angan /otak yang berpikir untuk menyerah, tetapi terletak pada ego, tepatnya penyerahan ego. Pasrah itu selalu dibarengi dengan penundukkan ego diri kepada sesuatu dzat (bukan zat) yang Maha Berkuasa. Ibarat sesajen, penyerahan kedaulatan ego kepada-Nya adalah sesajen untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya yang artinya beroleh kebahagiaan.
Indoktrinasi penyerahan kedaulatan ini sering digunakan sebagai bagian dari pencucian otak sekelompok aliran kepercayaan radikal tertentu yang selalu mengatasnamakan Tuhan dalam tindakannya semisal terrorre'jing eh....teroris. Bila benar apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari penyerahan ego kepada Tuhan YME, tentulah tidak ada lagi arogansi kebenaran pribadi dengan menganggap salah keyakinan orang lain. Logikanya begini, para teroris tersebut membunuh orang dengan alasan korban-korbannya adalah orang kafir yang pantas dibunuh, itu artinya mereka meremehkan kemampuan Tuhan untuk secara pribadi membunuh atau tidak menciptakan orang-orang kafir tersebut. Logikanya mereka harus berpikir juga bahwa semua ada/terjadi karena suatu alasan. Ah...tapi saya tidak mau berdebat mengenai logika para terrorre'jing itu karena sudah menjadi rahasia umum pada dasarnya mereka bertindak dengan tidak menggunakan logika tetapi suatu kepentingan dengan berselubungkan suatu keyakinan.
Berlawanan dengan para terrorre'jing tersebut, seseorang yang memang sudah menyerahkan kedaulatannya tidak melakukan agresi dengan menyerang atau melawan sesuatu yang menimpanya. Melainkan menerima dengan legawa kemudian menyesuaikan diri terhadap "serangan" tersebut. Mungkin sama dengan konsep bela diri aikido yang pernah diterangkan teman kantor saya dan artikel ini . Dari yang pernah saya ketahui mengenai aikido ini tidak ada teknik menyerang ataupun melawan (CIIW - correct me if i'm wrong) , dari yang pernah saya lihat teknik aikido cenderung menerima serangan lawan kemudian mengontrolnya sesuai "keinginan" kita. Sangat menarik. Oleh karena itu ketika seorang teman bercerita mengenai perilaku seorang temannya,saya sarankan teman saya tsb untuk menyuruh temannya itu (temannya teman saya) berlatih aikido, mungkin bisa membantu apa yang dianggap masalah bagi teman saya itu (nah loh....bingung ngga antara teman dan temannya teman :p ).
Kembali ke kebahagiaan. Dari buku karya seorang jawa Bp. Soenarto M. berjudul Olah Rasa di Dalam Rasa, saya setuju bahwa seseorang akan bahagia bila ia tidak terikat oleh sesuatu yang ada di dunia ini, dengan kata lain sudah ikhlas. Kabar buruknya ikhlas tidak bersifat heredity dan tidak terkode-kan dalam gen seorang anak manusia. Kabar baiknya we're still alive he he he....... . Untuk penjelasan mengenai keterikatan ini saya ambilkan dari tulisan beliau :
.....Adapun keterikatan itu disebabkan oleh pekertinya cipta (pikir) dan bergeraknya angen-angen yang mengadakan bayangan atau gambaran aneka rupa tentang hal-hal yang kaucintai....
Lalu, apakah salah bila mencintai sesuatu ? Ah....tentu saja tidak, seperti apa yang pernah ditulis oleh mbak ini . Namun dari yang pernah saya alami, mencintai diri sendiri dengan terlalu berlebihan, banyak menimbulkan pamrih yang melahirkan ketidakbahagiaan . Tulus mengalah dengan tidak membela diri bila tidak diperlukan, membiarkan orang lain bahagia dengan caranya sendiri, sering menimbulkan kebahagiaan yang bukan hanya sekedar sensasi seperti sensasi kembang api di malam Tahun Baru. Percaya saja akan sifat keadilan-Nya, yang bukan hanya sekedar Adil tetapi MAHA adil. Apa yang saya terima, pasti pernah saya lakukan. Entah kapan & di masa apa. Untuk itu, perkenankanlah saya menyampaikan :
Semoga 26 tahun kehidupan ini telah mengurangi keburukan yang pernah tertanam dan menjadi momentum untuk hanya menanam kebaikan.
Ijinkanlah saya tutup postingan kali ini dengan sebuah kutipan dari tulisan psikiater besar Indonesia, Prof. Soemantri Hardjoprakoso sebagai berikut :
.........................
Siapa masih tergoda oleh keadaan dunia besar ini, masih belum suci.
Siapa masih ingin menjalankan suatu prestasi, sekalipun prestasi itu baik, ternyata belum tenang.
Siapa masih ingin memberantas apa-apa yang jahat dan buruk, ternyata belum damai.
Siapa masih membenci apa-apa yang tidak baik, ternyata belum sayang
..........................
(Arsip Sarjana Budi Santosa - Prof. Soemantri Hardjoprakoso)

